Stola

Stola


APA itu stola? Stola adalah kata yang berasal dari Bahasa Latin untuk menyebut salah satu jenis pakaian liturgi (vestimentum) yang dikenakan oleh kaum klerus. Pakaian ini terbuat dari kain yang bentuknya menyerupai selendang, warnanya sesuai dengan warna liturgi, dengan lebar beberapa sentimeter dan relatif panjang. 

Dalam pemakaiannya, diakon akan mengenakan stola dengan titik tengah diselempangkan pada bahu kiri, menyerong pada bagian dada dan punggung, terus ke bawah dan selempang itu bertemu pada bagian pinggang sebelah kanan. Imam mengenakannya dengan titik tengah dikalungkan pada bagian pangkal leher bagian belakang (tengkuk), hingga dua jumbainya menjulur ke depan dan disilangkan di depan dada. Namun, sekarang imam dapat memakai stola tanpa harus menyilangkannya di depan dada, tetapi jumbainya dapat dibiarkan saja terjulur lurus hingga ke bawah (Petunjuk Umum Missale Romanum, PUMR.340). klerus akan menggunakan singel. Singel merupakan salah satu jenis pakaian liturgi yang berupa tali panjang -biasanya berwarna putih- yang terbuat dari benang tebal untuk dililitkan di pinggang, sebagai pengikatnya. 
Sementara itu, uskup memakainya seperti imam, tanpa menyilangkannya di depan dada, tetapi membiarkannya terjulur ke bawah. Supaya bentuknya sesuai dengan aturan yang berlaku, pada bagian pinggang, kaum

Biasanya, stola dipakai dalam upacara liturgi dan paraliturgi. Stola dipakai setelah klerus (kaum tertahbis) mengenakan alba (jubah putih). Bahkan sekarang kerapkali ditemui suatu variasi pemakaian stola. Stola seringkali dipakai menjadi pakaian paling luar dalam liturgi setelah kasula. Stola merupakan tanda penerimaan Sakramen Imamat atau tahbisan (diakon, imam dan uskup). Artinya, jika seseorang memakai stola, ia termasuk sebagai bagian dari klerus.

Sementara itu, Paus kadang terlihat memakai stola pada kesempatan-kesempatan tertentu yang dianggap istimewa. Pemakaian ini seolah menjadi bagian dari "pakaian seragam resmi" Paus untuk acara-acara tertentu. Akan tetapi, stola yang dipakai Paus terlihat khusus. Stola tersebut dipenuhi dengan hiasan dan simbol-simbol khas Gerejani dan dibubuhi lambang pribadinya.     
                         
Menurut tradisi, stola awalnya adalah syal yang digunakan oleh para perempuan dengan derajat dan status sosial yang tinggi pada zaman Romawi. Syal tersebut berukuran lebar hingga menutupi bahu; dan relatif panjang hingga jumbai-jumbainya bisa menutupi tubuh bagian depan, sampai menjulur ke bawah. Konon, Gereja Katolik mengadopsi penggunaan syal ini sekitar abad VII, dengan sebutan stola. Namun, bentuknya disesuaikan dan semakin lama semakin ramping (tidak lebar). Selain itu, di dalam stola tersebut juga dihiasi beranekaragam hiasan yang berupa simbol-simbol Gerejani. Karena tradisi penggunaan syal sebelumnya dalam masyarakat Romawi menjadi simbol pangkat, jabatan dan kedudukan, pemakaian stola dalam Gereja Katolik juga menunjukkan status jabatan tertentu, yakni kaum klerus. Bahkan awalnya, stola dibuat secara khusus menggunakan kain sutera dengan hiasan bernilai mahal, untuk menunjukkan status jabatan tinggi dalam Gereja Katolik. Fungsi stola sebagai penunjuk suatu jabatan tertentu masih dipertahankan hingga sekarang dalam Gereja Katolik. Pasalnya, hanya kaum tertahbis (klerus) yang bisa menggunakan pakaian ini.

R.B.E. Agung Nugroho
___________________
Foto:
1. Macam-macam stola [togastola.wordpress.com]
2. Pemakaian stola oleh Diakon [www.wikiwand.com]
3. Pemakaian stola oleh Imam [www.wikiwand.com
4. Paus Yohanes Paulus I [www.wikiwand.com]
5. Paus Yohanes Paulus II [www.themichigancatholic.org]
6. Paus Benediktus XVI [topnews.in]
7. Paus Fransiskus [stcdio.org]
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HIRARKI GEREJA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger