Mgr Albertus Soegijapranata SJ

Uskup Agung Semarang

"In Nomine Jesu"

  • Lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 25 November 1896.
  • Nama aslinya adalah Soegija; lalu dibaptis dengan nama Albertus (diambil dari St Albertus Magnus OP (1193-1280), seorang teolog Dominikan Jerman ternama dari zaman Abad Pertengahan yang dihormati oleh Gereja Katolik setiap 15 November dan menerima gelar Santo dan Doktor Gereja); dan setelah tahbisan imam, ia menambahkan nama "pranata" sehingga menjadi Albertus Soegijapranata.
  • Putra pasangan Karijosoedarmo dan Soepiah. 
  • Keluarganya kemudian pindah ke Yogyakarta sewaktu Soegija masih kecil. Karijosoedarmo bekerja sebagai Abdi Dalem di Kraton Yogyakarta Hadiningrat, mengabdi kepada Sultan Hamengkubuwono VII (1839-1931). Sementara Soepiah bekerja sebagai pedagang ikan di pasar.
  • Mulai mengenyam pendidikan formal di "Sekolah Angka Loro" (Jawa: "Sekolah Angka Dua") untuk belajar membaca dan menulis di dekat Kraton Yogyakarta. 
  • Menempuh pendidikan berikutnya di sekolah di Wirogunan, Yogyakarta; lalu melanjutkan ke Hollands Inlands School (HIS) Lempuyangan, Yogyakarta. Di luar sekolah, Soegija juga berlatih "nggamel" (bermain gamelan Jawa) dan "nembang" (menyanyi lagu-lagu Jawa).
  • Belajar di Kolese Xaverius (kini SMA van Lith) Muntilan, Jawa Tengah: 1909-1915 (Normaalschool dan Kweekschool, sekolah calon guru berbahasa Belanda), di bawah asuhan Pater Fransciscus Georgius Josephus van Lith SJ (1863-1926). Selain itu, Soegija juga dididik oleh misionaris-misionaris Jesuit lain, seperti Pater Jacobus Mertens SJ (1867-1923), Pater Henricus van Driessche SJ (1875-1935), Pater Leopoldus van Rijckevorsel SJ yang saat itu masih Frater Tahun Orientasi Kerasulan (TOK) (1884-1956).
  • Dibaptis: 24 Desember 1910.
  • Guru di Kolese Xaverius Muntilan, Jawa Tengah: 1915-1916.
  • Masuk Seminari dan belajar Bahasa Latin dan Yunani di Seminari Muntilan, Jawa Tengah: 1916-1919.
  • Berangkat melanjutkan pendidikan calon imam Jesuit ke Belanda: 1919 (berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju Pelabuhan Uden, Belanda).
  • Belajar bahasa (persiapan masuk novisiat) di Belanda: 1919-1920.
  • Masuk Novisiat Serikat Yesus (Jesuit) di Belanda: 27 September 1920.
  • Novisiat Serikat Yesus di Mariëndaal, Grave, Noord-Brabant, Belanda: 1920-1922.
  • Selesai Novisiat Serikat Yesus dan mengikrarkan kaul pertama sebagai Jesuit: 22 September 1922.
  • Yuniorat Serikat Yesus di Mariëndaal, Grave, Noord-Brabant, Belanda: 1922-1923.
  • Studi Filsafat di Kolese Berchmann, Oudenbosch, Halderberge, Noord-Brabant, Belanda: 1923-1926. 
  • Selama belajar di Oudenbosch, Mgr Albertus Soegijapranata SJ juga rajin menulis di Majalah St Claverbond, Berichten uit Java, dan Majalah Swaratama (salah satunya mengenai terjemahan hasil Kongres Ekaristi ke-27 di Amsterdam, Belanda, tahun 1924).
  • Pulang ke Indonesia, tiba di Muntilan, Jawa Tengah pada September 1926.
  • Tahun Orientasi Kerasulan (TOK) di Kolese Xaverius Muntilan, Jawa Tengah: 1926-1928 (mengajar sebagai guru Agama Katolik, Bahasa Jawa, dan Aljabar; mendampingi ekstrakurikuler gamelan dan berkebun; serta berkecimpung menjadi redaktur Majalah Swaratama, sebuah majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa).
  • Kembali ke Belanda, tiba di Maastricht: Agustus 1928.
  • Studi Teologi di Maastricht, Belanda: 1928-1932.
  • Bersama empat Jesuit keturunan Asia, Frater Albertus Soegija SJ ikut Pater Wlodzimierz Ledóchowski SJ (1866-1942), Jenderal Jesuit ke-26 yang saat itu menjabat, untuk beraudiensi dengan Paus Pius XI (1857-1939) di Vatikan: 3 Desember 1929.
  • Tahbisan Diakon Serikat Jesus (Jesuit): Mei 1931.
  • Tahbisan Imam Serikat Jesus (Jesuit): 15 Agustus 1931, oleh Uskup Roermond, Mgr Laurentius Josephus Antonius Hubertus Schrijnen (1861-1932).
  • Tersiat di Drongen, Belgia: 1932-1933. Saat itu, Romo Albertus Soegijaparanata SJ menulis autobiografi berjudul "La Conversione di un Giavanese" ("Pertobatan Seorang Jawa"), yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, Belanda, dan Spanyol.
  • Berangkat dari Belanda untuk pulang ke Indonesia: 8 Agustus 1933.
  • Mengikrarkan Kaul Akhir sebagai Jesuit: 2 Februari 1934.
  • Pastor Rekan Paroki St Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta: 1933-1934, mendampingi Pater Henricus van Driessche SJ (1875-1935).
  • Pastor Paroki St Yoseph Bintaran, Yogyakarta: April 1934-1940.
  • Melayani hingga ke Ganjuran, Bantul, Yogyakarta: Juni 1934-1940.
  • Selama menjadi Pastor Paroki, Romo Albertus Soegijapranata SJ aktif dengan berbagai kegiatan, seperti menjadi Redaktur dan terus menulis untuk Majalah Swaratama, mendampingi sebagai penasihat berbagai kelompok, bahkan mendirikan sebuah koperasi untuk umat Katolik. 
  • Dipilih sebagai penasihat Ordo Serikat Yesus (SJ) di Hindia-Belanda: 1938.
  • Ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Semarang (kini Keuskupan Agung Semarang): 1 Agustus 1940, dengan dianugerahi gelar Uskup Tituler Danaba. Penunjukkan ini terjadi tidak lama setelah Vikariat Apostolik Semarang didirikan pada 25 Juni 1940, yang merupakan pemekaran dari Vikariat Apostolik Batavia (kini Keuskupan Agung Jakarta).
  • Mgr Albertus Soegijapranata SJ pindah dari Yogyakarta ke Semarang: 30 September 1940 (ditemani asisten setianya: Hardjosoewarno).
  • Tahbisan Uskup Tituler Danaba: 6 November 1940 di Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Randusari, Semarang, Jawa Tengah (kini Gereja Katedral Keuskupan Agung Semarang). Sebagai upacara pentahbisan Uskup pribumi pertama Indonesia, upacara ini dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1912-1988), para tokoh politik kemerdekaan, dan klerus dari Semarang, Batavia (kini Jakarta), Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Malang, Lampung, Palembang, dll. 
  • Uskup Pentahbis Utama: Uskup Tituler Zoraya, Mgr Pieter Jan Willekens SJ (kelak menjadi Vikaris Apostolik Djakarta hingga mengundurkan diri dan wafat sebagai Vikaris Apostolik Emeritus Djakarta).
  • Uskup Pentahbis Pendamping: Uskup Tituler Thubunae in Numidia, Mgr Antoine Everard Jean Avertanus Albers OCarm (kelak menjadi Uskup Malang hingga mengundurkan diri dan wafat sebagai Uskup Emeritus Malang), yang saat itu menjadi Vikaris Apostolik Malang (kini Keuskupan Malang) dan Uskup Tituler Athyra, Mgr Henri Martin Mekkelholt SCJ (kelak menjadi Uskup Palembang hingga pensiun dan mendapat gelar Uskup Tituler Dausara hingga wafat sebagai Uskup Emeritus Palembang), yang saat itu menjadi Vikaris Apostolik Palembang (kini Keuskupan Agung Palembang). 
  • Tahun 1940, Vikariat Apostolik Semarang memiliki 84 imam (73 Eropa, 11 pribumi), 137 bruder (103 Eropa, 34 pribumi), dan 330 suster (251 Eropa, 79 pribumi). Jumlah umat Katolik pribumi mencapai 15.000; sementara umat Katolik Eropa hampir sama. Namun, dalam waktu dua tahun (1940-1942), umat Katolik pribumi di Vikariat Apostolik Semarang meningkat dua kali lipat, melebihi jumlah umat Katolik Eropa. Selain itu, bermunculan aneka organisasi Katolik, yang kebanyakan bergerak di bidang pendidikan.
  • Awal penggembalaannya di Vikariat Apostolik Semarang, ditandai dengan pendudukan Jepang atas Hindia-Belanda (1942-1945). Banyak Uskup, imam, biarawan-biarawati ditangkap, diinternir, bahkan dibunuh. Banyak bangunan, termasuk gereja disita, bahkan dana milik Gereja. Sebagai Uskup pribumi pertama, Mgr Albertus Soegijapranata SJ berhasil lolos dari semuanya itu -mencegah penyitaan Pastoran dan Gereja Gedangan, Semarang, serta beberapa lainnya. Ia pun membantu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan bersahabat dengan Soekarno (1901-1970) dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1912-1988). Karena mobilnya disita Jepang, Mgr Albertus Soegijapranata SJ tetap berkeliling mengunjungi umatnya dengan berjalan kaki, bersepeda atau memakai kereta kuda. Ia secara teratur memantau dan memberi informasi para biarawan dan biarawati yang diinternir Jepang. Selain itu, ia tetap memberikan kabar ke teritori gerejani lain, seperti Batavia (kini Jakarta), Bandung, Malang, dan Surabaya. Bahkan, ia tetap mengangkat Romo Hardjawasita yang baru ditahbiskan tahun 1942 untuk menjadi Rektor Seminari agar proses formasi calon imam lokal tetap berlangsung, meskipun secara diaspora.
  • Figur Mgr Albertus Soegijapranata SJ dalam perjuangan kemerdekaan dikenal dengan istilah "silent diplomacy". Tanpa banyak orang tahu, diam-diam Mgr Albertus Soegijapranata SJ senantiasa berjuang mendapatkan pengakuan kedaulatan dari negara-negara lain atas Republik Indonesia. Ia berusaha meyakinkan Kaisar Jepang bahwa umat Katolik yang ada di Indonesia juga sama seperti umat Katolik yang ada di Jepang karena tunduk pada satu komando, yakni Takhta Suci di Vatikan. Uskup pribumi Indonesia pertama ini terkenal dengan semboyan, "100% Katolik dan 100% Indonesia".
  • Awalnya, Mgr Albertus Soegijapranata SJ tinggal di Pastoran Gedangan (1940-1947). Namun, ketika perjuangan kemerdekaan menjadikan Yogyakarta sebagai Ibukota Negara pada Januari 1946, Mgr Albertus Soegijapranata SJ juga memindahkan takhtanya dari Semarang ke Yogyakarta pada 18 Januari 1947. Ia hijrah ke Yogyakarta dan tinggal di Pastoran Bintaran (1947-1949). Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB, 23 Agustus - 2 November 1949) di Den Haag, Belanda dan akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949, Mgr Albertus Soegijapranata SJ akhirnya kembali lagi ke Semarang dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya.
  • Berpidato melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) agar umat Katolik harus bekerja sama dengan para pejuang Indonesia: 21 Juli 1947, setelah pelaksanaan Perjanjian Linggarjati gagal dengan meletusnya Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947).
  • Bersama Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (I.J. Kasimo, 1900-1986) menyiapkan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) pada 7-12 Desember 1949, yang berhasil mengkonsolidasikan partai-partai berbau Katolik menjadi Partai Katolik.
  • Diangkat sebagai Vikaris Apostolik dari Ordinariat Militer Indonesia: 25 Desember 1949.
  • Diangkat Uskup Agung Semarang: 3 Januari 1961. Pengangkatan ini bersamaan dengan pendirian Hirarki Gereja Katolik di Indonesia melalui promulgasi Konstitusi Apostolik Quod Christus Adorandus oleh Paus Yohanes XXIII (1881-1963). Kala itu, banyak Prefektur Apostolik dan Vikariat Apostolik dinaikkan statusnya menjadi Keuskupan atau Keuskupan Agung.
  1. Sesi Pertama (11 Oktober – 8 Desember 1962).
  • Mgr Albertus Soegijapranata SJ juga ikut dalam sesi persiapan Konsili karena ia termasuk dalam anggota Komisi Persiapan Sentral. Ia menjadi salah satu dari enam Uskup asal Asia yang masuk ke dalam komisi ini.
  • Usai mengikuti sesi pertama Konsili Vatikan II, Mgr Albertus Soegijapranata SJ sempat pulang ke Tanah Air. Kondisi kesehatannya cukup buruk sehingga haris dirawat di RS St Elizabeth Semarang tahun 1963 dan diminta untuk tidak berkegiatan terlebih dahulu. Bahkan sejak 1 Agustus 1962, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang, Romo Justinus Darmojuwono telah menggantikan tugas-tugas Uskup Agung Semarang. Namun, Mgr Albertus Soegijapranata SJ tetap bersikukuh untuk kembali ke Vatikan demi mengikuti Konsili Vatikan II.  Kelak Romo Justinus Darmojuwono ini menjadi Kardinal pertama Indonesia dengan gelar Kardinal-Imam Santissimi Nome di Gesù e Maria in Via Lata. Dialah yang menggantikan Mgr Albertus Soegijapranata SJ sebagai Uskup Agung Semarang dan Uskup Militer Indonesia; hingga pensiun dan yang pada akhirnya wafat sebagai Kardinal dan Uskup Agung Emeritus Semarang.
  • Berangkat dari Indonesia ke Vatikan: 30 Mei 1963.
  • Berobat ke Belanda dan menjalani perawatan cukup intensif di RS Canisius Nijmegen, Gelderland, Belanda: 29 Juni - 6 Juli 1963. Sayang, usaha perawatan ini tidak berhasil.
  • Wafat sebagai Uskup Agung Semarang: 22 Juli 1963 di sebuah biara susteran di Steyl, Venlo, Tegelen, Belanda, akibat serangan jantung, pada usia 67 tahun (40 tahun sebagai imam dan hampir 23 tahun sebagai Uskup). Bung Karno (1901-1970) segera memerintahkan agar jenazahnya diterbangkan ke Indonesia dan harus dikebumikan di Tanah Air. Selang empat hari pasca wafatnya, 26 Juli 1963, Mgr Albertus Soegijapranata SJ langsung diangkat sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 152/1963, karena jasa-jasanya terhadap Ibu Pertiwi. 
  • Jenazahnya tiba di Bandara Kemayoran Jakarta pada 28 Juli 1963. Pada 29 Juli 1963, jenazahnya diterbangkan ke Semarang, Jawa Tengah. Lalu pada 30 Juli 1963, jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, Jawa Tengah, dengan upacara militer resmi kenegaraan.
  1. Mgr Michel Thomas Verhoeks CM sebagai Uskup Tituler Eleutheropolis in Palaestina ketika diangkat sebagai Vikaris Apostolik Surabaia (kini Keuskupan Surabaya) (8 Mei 1942).
  2. Mgr Raimundo Cesare Bergamin SX sebagai Uskup Padang (6 Januari 1962).
  1. Mgr Jacques Hubert Goumans OSC sebagai Uskup Tituler Lauzadus ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Bandung (kini Keuskupan Bandung) (22 April 1942).
  2. Mgr Gabriel Wilhelmus Manek SVD (kelak menjadi Uskup Agung Endeh hingga pensiun dan sempat mengampu gelar Uskup Agung Tituler Bavagaliana; wafat sebagai Uskup Agung Emeritus Endeh) sebagai Uskup Tituler Alinda ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Endeh (kini Keuskupan Agung Ende) (25 April 1951).
  3. Mgr Nicolas Pierre van der Westen SSCC (kelak menjadi Uskup Pangkalpinang hingga pensiun dan wafat sebagai Uskup Emeritus Pangkalpinang) sebagai Uskup Tituler Bladia ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Pangkalpinang (20 Mei 1951).
  4. Mgr Pierre Marin Arntz OSC (kelak menjadi Uskup Bandung hingga wafat sebagai Uskup Bandung yang masih aktif) sebagai Uskup Tituler Stectorium ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Bandung (kini Keuskupan Bandung) (25 Maret 1952).
  5. Mgr Adrianus Djajasepoetra SJ (kelak menjadi Uskup Agung Djakarta hingga pensiun dan sempat mengampu gelar Uskup Agung Tituler Volsinium; wafat sebagai Uskup Agung Emeritus Djakarta) sebagai Uskup Tituler Trisipa ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Djakarta (kini Keuskupan Agung Jakarta) (23 April 1953).
  6. Mgr Jan Antonius Klooster CM (kelak menjadi Uskup Surabaya hingga pensiun dan wafat sebagai Uskup Emeritus Surabaya) sebagai Uskup Tituler Germanicopolis ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Surabaia (kini Keuskupan Surabaya) (1 Mei 1953).
  7. Mgr Wilhelmus Joannes (Guillaume Jean) Demarteau MSF (kelak menjadi Uskup Banjarmasin hingga pensiun dan wafat sebagai Uskup Emeritus Banjarmasin) sebagai Uskup Tituler Arsinoë in Cypro ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Bandjarmasin (kini Keuskupan Banjarmasin) (5 Mei 1954).
  8. Mgr Antoine Henri van den Hurk OFMCap (kelak menjadi Uskup Agung Medan hingga pensiun dan wafat sebagai Uskup Agung Emeritus Medan) sebagai Uskup Tituler Phelbes ketika diangkat menjadi Vikaris Apostolik Medan (kini Keuskupan Agung Medan) (14 April 1955).
  • Keuskupan Agung Semarang: 
Pendahulu: -
Penerus: Kardinal Justinus Darmojuwono
  • Ordinariat Militer Indonesia:
Pendahulu: -
Penerus: Kardinal Justinus Darmojuwono
  •  Ketua MAWI:
 Pendahulu: -
 Penerus: Kardinal Justinus Darmojuwono
R.B.E. Agung Nugroho
_______________
Foto: Mgr Albertus Soegijapranata SJ [www.hidupkatolik.com]

Sumber:
  1. Subanar, G. Budi (2003). Soegija, Si Anak Bethleham van Java. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Subanar, G. Budi (2005). Menuju Gereja Mandiri: Sejarah Keuskupan Agung Semarang di Bawah Dua Uskup (1940–1981). Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma.
  3. Subanar, G. Budi (2012). Kilasan Kisah Soegijapranata. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma (USD) bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta.
  4. www.catholic-hierarchy.org
  5. www.gcatholic.org
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HIRARKI GEREJA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger