Uskup Diosesan

MENGAPA seorang Uskup disebut Uskup Diosesan? Istilah Uskup Diosesan berasal dari Bahasa Latin: Episcopus Diocesanus. Episcopus berarti Uskup dan Diocesanus berarti Diosesan atau Keuskupan. Maka Uskup Diosesan ialah seorang Uskup atau gembala/pemimpin gerejawi tertinggi dari suatu keuskupan dalam Gereja Katolik.

Seorang Uskup Diosesan menerima tahbisan diakon, imam, hingga tahbisan tertinggi dalam Gereja Katolik, yakni tahbisan uskup –dan ditunjuk untuk mengepalai suatu wilayah keuskupan tertentu. Tahbisan tertinggi inilah yang membuatnya berhak untuk menerimakan tahbisan diakon, imam dan uskup. Ia bertanggung jawab penuh atas kawanan umat yang dipercayakan kepadanya. Wilayah yurisdiksinya terbatas pada teritori keuskupan yang ia pimpin berdasarkan pembagian wilayah yang sudah disetujui oleh Takhta Suci. Seringkali Uskup Diosesan juga disebut sebagai Ordinaris Wilayah, karena ia menjadi kepala tertinggi atas suatu teritori gerejani yang berupa sebuah keuskupan.

Dalam sebutan yang lazim di kalangan umat beriman, sebenarnya Uskup Diosesan dikenal dengan dua sebutan. Pertama ialah “Uskup” yang memimpin suatu keuskupan yang biasanya termasuk Keuskupan Sufragan. Kedua ialah “Uskup Agung” yang memimpin suatu Keuskupan Agung atau Keuskupan Metropolit, dengan memperhatikan beberapa kekecualian (silakan baca glosarium: Uskup Agung dan Uskup Metropolit).

Sementara sesuai dengan acuan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK, 1983), dikatakan secara tegas: “Para Uskup disebut diosesan, jika kepada mereka dipercayakan reksa suatu keuskupan; lain-lainnya disebut titular” (KHK Kanon 376). Jelaslah bahwa ada dua jenis Uskup, yakni Uskup yang dipercaya untuk reksa kepemimpinan suatu Keuskupan/Keuskupan Agung disebut Uskup Diosesan, dan selebihnya, yang menerima tahbisan Uskup tetapi tidak memimpin suatu Keuskupan/Keuskupan Agung disebut Uskup Tituler.

Tradisi Gereja Katolik mengamini bahwa para Uskup –berdasarkan penetapan ilahi– adalah pengganti-pengganti para Rasul (bdk. KHK Kanon 375 §1). Dengan Roh Kudus yang telah dianugerahkan kepada mereka, para Uskup ditetapkan menjadi gembala dalam Gereja Katolik. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk berperan sebagai guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci, dan pelayan dalam kepemimpinan.

Seorang Uskup Diosesan yang telah diangkat oleh Paus harus segera mengambil alih dan menduduki Takhta Keuskupan yang telah diserahkan kepadanya. Bagi yang belum menerima tahbisan Uskup, Takhta Suci memberikan waktu paling lama empat bulan untuk segera mengambil alih secara kanonik keuskupannya setelah menerima Surat Apostolik dari Bapa Suci. Akan tetapi bagi yang sudah ditahbiskan sebagai Uskup, Takhta Suci hanya memberikan waktu paling lama dua bulan setelah menerima surat pengangkatan. Upacara pengambil-alihan Takhta Keuskupan itu sedapat mungkin dilakukan secara liturgis di Gereja Katedral yang dihadiri para klerus dan umat di keuskupan tersebut. Setelah pengambil-alihnya secara kanonik itu, Uskup yang sudah bertakhta wajib menggelar Misa untuk kesejahteraan seluruh umat (Misa pro populo).

Dalam menjalankan tugas kegembalaannya, Uskup Diosesan dapat dibantu oleh Uskup Koadjutor dan Uskup Auksilier, jika Takhta Suci mengangkat para Uskup tersebut untuk membantunya (bdk. KHK Kan.381-402). Baik Uskup Koadjutor dan Uskup Auksilier lazim disebut sebagai Uskup Bantu karena tugasnya ialah membantu reksa kegembalaan Uskup Diosesan dalam wilayah yurisdiksinya (silakan baca glosarium: Uskup Auksilier dan Uskup Koadjutor).

Uskup Diosesan diminta mengajukan pengunduran diri saat genap berusia 75 tahun kepada Paus. Jika pengunduran dirinya dikabulkan oleh Bapa Suci, ia akan mendapat gelar "Emeritus" dari keuskupannya (silakan baca glosarium: Uskup Emeritus). Misalnya: pengunduran diri Uskup Agung Jakarta diterima dan dikabulkan oleh Bapa Suci, maka ia akan mendapat gelar Emeritus dari Keuskupan Agung Jakarta. Lalu ia akan disebut sebagai Uskup Agung Emeritus Jakarta. Namun jika ada alasan kesehatan atau alasan berat lainnya yang membuatnya kurang cakap atau bahkan terhalang untuk melaksanakan kewajibannya sebagai Uskup Diosesan, Uskup yang bersangkutan diminta dengan sangat untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatan gerejaninya kepada Paus. Segala keputusan terkait dikabulkan atau tidaknya pengunduran diri tersebut, menjadi hak Paus untuk menentukannya secara legitim setelah mempertimbangkan segala keadaan dengan seksama.

R.B.E. Agung Nugroho
________________
Foto:
  1. Martabat Episkopal: Tahbisan Uskup Ketapang, Mgr Pius Riana Prapdi [R.B.E. Agung Nugroho]
  2. Uskup-Uskup Diosesan (ki-ka): Uskup Agung Emeritus Medan, Mgr Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap; Uskup Emeritus Ketapang, Mgr Blasius Pujoraharja; Uskup Malang, Mgr Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro OCarm; dan Uskup Padang, Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap [R.B.E. Agung Nugroho]
  3. Pengganti Rasul: Mgr Pius Riana Prapdi menduduki Takhta Keuskupan Ketapang [R.B.E. Agung Nugroho]
  4. Misa Pro Populo: Mgr Pius Riana Prapdi berkeliling memberkati klerus dan umat dalam Misa Pontifikal Perdananya sebagai Uskup Ketapang [R.B.E. Agung Nugroho]
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HIRARKI GEREJA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger