Lahirnya Delegasi Apostolik di Indonesia

PERWAKILAN Kepausan di Indonesia ternyata sudah berusia lebih dari 65 tahun. Namun, publikasi khusus tentang historisitas awal wakil Paus untuk Gereja Lokal di Indonesia nyaris terabaikan. Termasuk di dalamnya, hubungan diplomatik Takhta Suci dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim ini.

Nunsius Apostolik Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi mulai menguak khazanah sejarah yang lama terkubur itu dalam sebuah buku bertajuk Gli inizi della Rappresentanza Pontificia in Indonesia (1947-1955). Ia membahas historiografi awal Perwakilan Kepausan di Indonesia, yakni Delegatus Apostolik pertama Gereja Indonesia Mgr Georges-Marie-Joseph-Hubert-Ghislain de Jonghe d’Ardoye MEP (1887-1961). Tonggak-tonggak sejarah dirangkum secara sistematis dari perspektif hubungan Gereja Indonesia dan Negara Indonesia dengan Takhta Suci. Ia pun memperjelas distingsi yuridis dan memotret perkembangan Delegatus Apostolik hingga lahirnya Internunsius Apostolik perdana di Indonesia. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Pastor Adolf Heuken SJ ini merupakan persembahan Mgr Filipazzi saat merayakan ulang tahun pertama tahbisan episkopalnya sebagai Uskup Agung Tituler Sutrium, 5 Februari 2012.

Tiga Perwakilan Kepausan

Dalam konteks relasi dengan Gereja partikular, otoritas pemerintahan sipil, dan organisasi-organisasi internasional, biasanya Takhta Suci mengirimkan wakilnya. Pertama, disebut sebagai Delegatus Apostolik, yang menjadi wakil Paus bagi para Vikaris Gereja-Gereja lokal. Meskipun hanya berhubungan dengan Gereja lokal, Delegatus mendapat privilese dan imunitas seperti korps diplomatik, dan bersama Vikaris Gereja setempat juga bekerjasama dengan pemerintahan sipil.

Kedua, jika fungsi perwakilan gerejani ini ditambah dengan fungsi wakil untuk otoritas pemerintahan sipil atau negara dalam relasi diplomatik, namanya pun menjadi Nuntius Apostolik. Hubungan diplomatik antara Vatikan dengan negara tertentu, menjadikan wakil Takhta Suci sebagai utusan atau duta bagi negara tersebut.

Ketiga, wakil Takhta Suci untuk organisasi internasional, disebut Misi Takhta Suci. Di dalamnya, Takhta Suci berperan sebagai anggota atau mitra atau bahkan pengamat.

Misionaris Unggul

Delegatus Apostolik pertama Indonesia Mgr Jonghe d’Ardoye MEP lahir di Saint-Gilles-lès-Bruxelles, Belgia, 23 April 1887, dari keluarga bangsawan. Pada usia 18 tahun, ia bergabung dengan Serikat Misi Paris (MEP), yang didirikan pada abad ke-17 dan beranggotakan imam Diosesan, dengan misi kaderisasi imam pribumi di Asia. Sesudah menyelesaikan studi filsasat-teologi di Paris dan Roma, ia ditahbiskan sebagai imam pada 21 Juni 1910.

Misi pertamanya adalah Tiongkok pada 30 November 1910. Ia berfokus pada bidang pendidikan dalam karyanya. Pada 1918, ia mendirikan Wisdom College di Kinglai hingga jejaringnya pun berkembang luas. “Setelah imam pribumi dididik, pendidikan kaum muda mestinya diutamakan, karena kami sangat memerlukan umat Katolik yang unggul,” tulis Pastor d’Adorye.

Pada 23 Mei 1933, Paus Pius XI menunjuknya sebagai Vikaris Apostolik Yünnanfu, Cina, dan Uskup Tituler Amathus in Cypro, dengan pesan khusus untuk memajukan pendidikan di Vikariatnya. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 17 September 1933 di rumah induk MEP Paris. Di Vikariatnya, ia mendirikan Seminari Tinggi Inter-Diosesan, dengan mengajak imam Salesian Don Bosco (SDB), dan mendirikan sekolah-sekolah bersama dengan beberapa kongregasi para suster.

Dalam karyanya, Mgr d’Ardoye terkena tipus dan lemah jantung, yang memaksanya kembali ke Perancis pada 1937. Ia mengundurkan diri sebagai Vikaris, dan diterima. Namun, Paus memberikan tugas baru kepadanya sebagai Delegatus Apostolik Irak dan mengangkatnya sebagai Uskup Agung Tituler Misthia pada 16 Oktober 1938. Sama seperti di Tiongkok, ia mendirikan sekolah di Karrada dan Mosul, bersama Dominikan (OP). Muda-Mudi Katolik Baghdad juga didirikannya. Selain fokus pada pendidikan, Mgr d’Ardoye juga berpastoral untuk tawanan perang, yang saat itu berkecamuk.

Batal ke Bulgaria

Setelah delapan tahun merasul di Irak, Takhta Suci berpikir untuk memindahkan Mgr d’Ardoye ke tempat tugas baru. Muncul pilihan antara Ethiopia atau Tiongkok. Namun, diputuskan sebagai Delegatus Apostolik Bulgaria. Faktanya, keputusan itu gagal. Justru ia ditugaskan sebagai Delegatus Apostolik Indonesia pertama oleh Paus Pius XII pada 6 Juli 1947. Penunjukan ini adalah jawaban Paus atas permintaan beberapa Vikaris di Indonesia pada 1946 yang meminta Takhta Suci mengirimkan Delegatus Apostolik.

Pada 27 Juli 1947 pukul 10.40 WIB, Mgr d’Ardoye tiba di Batavia dengan pesawat dan disambut oleh wakil Gereja dan pemerintah. Ia tinggal di Hotel der Nederlanden selama sebulan. Lalu, ia tinggal bersama Mgr Willekens di keuskupan. Kemudian diputuskan untuk membeli rumah di Koningsplein Oost No 18 (sekarang: Jl Medan Merdeka Timur No 18). Berkat donasi Superior Jenderal Ursulin (OSU), rumah itu terbeli. Patung St Teresia Kanak-Kanak Yesus, hadiah dari Vikaris Apostolik Malang Mgr Antonius Everad Johanes Albers OCarm, dipasang di dalamnya. Sejak saat itu hingga kini, Wakil Kepausan tidak berpindah, kecuali saat residensi dibangun pada 1965-1966, ia tinggal di Jl Imam Bonjol 7.

Karya di Indonesia

Sejak awal di Indonesia, Mgr d’Ardoye juga aktif berhubungan dengan Pemerintah Indonesia. Ia pun mengunjungi Konsul Jenderal dan Duta Besar pelbagai negara yang tinggal di Batavia. Dalam kunjungannya ke teritori gerejani di luar Batavia, ia juga bekerjasama dengan pemerintah sipil setempat. Selama berkarya di Indonesia, ia berkeliling ke hampir semua teritori gerejani yang ada.

Mgr d’Ardoye dengan tekun menemani perjalanan umat Katolik Indonesia. Tercatat ia menjadi Uskup Penahbis Utama untuk enam Uskup di Indonesia. Selama di Indonesia, tujuh Prefektur Apostolik dan tujuh Vikariat Apostolik diresmikan. Ia mendorong pembukaan Seminari di Bandung dan Manado. Gagasan pembukaan Universitas Katolik juga dilontarkan di Bogor dan Bandung. Kerasulan awam, terutama Legio Mariae, kerjasama dengan tarekat, dan penambahan misionaris digalakkan. Bahkan, ia membentuk panitia tiga imam untuk menerjemahkan Rituale Romanum ke Bahasa Indonesia pada 20 September 1948.

Pada 29-30 Desember 1949, Delegatus Takhta Suci hadir dalam upacara penyerahan kedaulatan Indonesia bersama Duta Besar dari 10 negara. Vatikan pun menugaskan Mgr d’Ardoye menyampaikan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia pada 4 Januari 1950. Lalu, ia bertemu Mohamad Hatta, dan disambut undangan supaya Takhta Suci mengadakan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kurang dari sepekan, Vatikan menyetujui usulan Hatta. Alhasil pada 16 Maret 1950, Vatikan meresmikan Internunsiatur Apostolik Jakarta, yang statusnya menjadi Nunsiatur Apostolik pada 7 Desember 1966. Indonesia pun menyambutnya dengan menugaskan Sukardjo Wigjopranoto sebagai Duta Besar Indonesia untuk Vatikan. Relasi baik ini terbina hingga Presiden Soekarno mengunjungi Paus empat kali, dan mengundang Paus berkunjung ke Indonesia.

Cinta Indonesia

Akhirnya, Paus Pius XII menugaskan Mgr d’Ardoye sebagai Internunsius Apostolik Mesir dan Republik Arab pada 2 Maret 1955. Selang 20 bulan, ia mengundurkan diri pada 23 November 1956. Sebelum wafat, ia sempat menulis tentang Gereja Katolik Indonesia yang terbit di Majalah MEP pada 1961, saat Hirarki Gerejani Indonesia didirikan oleh Paus Yohanes XXIII dengan promulgasi Konstitusi Apostolik Quod Christus Adorandus, 3 Januari 1961. Ia wafat dalam usia 74 tahun pada 27 Agustus 1961.
R.B.E. Agung Nugroho

____________
Foto: 
1. Antonio Guido Filipazzi, Gli inizi della Rappresentanza Pontificia in Indonesia (1947-1955), Giakarta, 2012, terj. Awal Perwakilan Kepausan di Indonesia (1947-1955) oleh Adolf Heuken SJ (109 halaman).
2. Mgr Georges-Marie-Joseph-Hubert-Ghislain de Jonghe d’Ardoye MEP [Dokumen Nunsiatura, Repro: Stefanus P. Elu]
3. Patung St Theresia Kanak-Kanak Yesus di Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia [HIDUP/Stefanus P. Elu]
4. Dua bendera Negara Republik Indonesia dan Negara-Kota Vatikan melambangkan kerjasama dua belah pihak  [www.crossed-flag-pins.com]

Keterangan: 
Resensi Buku ini pernah dimuat di Majalah HIDUP edisi No.1, 6 Januari 2013, halaman 16-17.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HIRARKI GEREJA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger